Tim Satgas Pangan Bongkar Kecurangan Distribusi Pupuk Penyebab Kenaikan Harga Beras

Minggu, 4 Februari 2024 - 00:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beritakoperasi, Purwokerto – Tim Satgas membongkar penyebab melonjaknya harga beras belakangan ini. Biang kerok dari permasalahan ini adalah kecurangan distribusi pupuk dan juga bahan bakar minyak (BBM) Subsidi.

Mengapa Distribusi pupuk menjadi pemicu melonjaknya harga beras? 

Karena adanya kecurangan distribusi pupuk subsidi yang menyebabkan kelangkaan pupuk di beberapa daerah. Ketika penerima pupuk subsidi tidak sesuai dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sehingga petani akan membeli pupuk non-subsidi yang harganya lebih mahal. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dan juga ketika pupuk subsidi yang dikeluarkan setelah musim tanam selesai, jadi petani akan tetap mengikuti waktu tanam yang sudah direncakan daripada menunggu pupuk subsidi yang dapat dikatakan tidak ada kejelasan.

Petani yang layak mendapat subsidi tidak menerima pupuk subsidi. Akibatnya  Ketika harga produksi meningkat maka harga beras menjadi mahal.

“Dan yang terkena imbasnya adalah konsumen,” ujar tim satgas pangan

Selain pupuk subsidi, ada juga penyimpangan distribusi lain yaitu distribusi BBM subsidi. BBM subsidi yang seharusnya masuk ke SPBU untuk kendaraan pengangkut hasil pertanian, justru masuk ke pertambangan. Sehingga petani menanggung biaya transportasi untuk mengangkut hasil pertanian lebih besar. 

Baca juga:  Indonesia Bidik Swasembada Gula, Perhutani Siapkan 2.300 Hektar Lahan Tebu

“Akibatnya konsumen terkena imbas atas penyimpangan distribusi BBM subsidi, banyaknya elemen yang mempengaruhi kenaikan harga beras dari petani,” ujarnya lagi

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menyatakan bahwa Pemerintah sedanng merevisi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dari gabah.

Sepertinya Pemerintah tidak bisa menyenangkan semua pihak, namun setidaknya pemerintah harus bisa menyeimbangkan antara harga di petani dan juga di konsumen. 

Harga petani yang harus disesuaikan dengan agroinput dan juga margin yang cukup sehingga petani mau untuk meningkatkan produksinya. Namun Pemerintah juga harus memahami kondisi konsumen untuk menjaga harga yang ditetapkan. 

“Jangan sampai di petani sangat tinggi seperti kemarin misalnya sampai Rp 9.000, sedangkan harga ke konsumen kisaran Rp 20.000. Atau sebaliknya pada saat harga beras yang cenderung turun jangan sampai GKP-nya dibawah Rp5.000", kata Arief

Kepala Bapanas ini mereview supaya harga beras tidak terlalu jatuh di tingkat petani dan di hilirnya harga masih bisa di terima oleh masyarakat banyak. 

Dalam menetapkan HPP, Pemerintah dapat melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2023 tentang Harga Pembelian Pemerintah dan Rafaksi Harga Gabah dan Beras. 

Baca juga:  Update Kenaikan Harga BBM Februari 2023

Dalam aturan itu, HPP yang ditetapkan untuk gabah kering panen (GKP) sebesar Rp5.000 per kg dan ditingkat penggilingan  Rp5.100 per kg.Lalu harga gabah kering giling(GKG) ditetapkan sebesar Rp6.200 per kg di tingkat penggilingan dan di gedung Perum Bulog sebesar Rp6.300 per kg. (Beritakoperasi/Izul)
 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari BeritaKoperasi.com.

Berita Terkait

BI Terus Intervensi Pasar Akibat Rupiah Tertekan Dekati Rp 16.300 Per Dollar AS
Pelemahan Rupiah Bakal Berdampak pada Harga Barang Impor sampai Beras
Penyebab Harga Bawang Merah Naik
Pengusaha Buka-bukaan Biang Kerok Gula Langka dan Mahal di Ritel
Indonesia Bidik Swasembada Gula, Perhutani Siapkan 2.300 Hektar Lahan Tebu
Neraca Perdagangan Maret 2024 Tembus USD 4,47 Miliar, BI Bakal Perkuat Kebijakan Moneter
Rupiah Tertekan ke Rp 16.234 per Dolar AS Pagi Ini
IHSG Menguat 47,6 Poin, Rupiah Melemah
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:36

Mengenal Fenomena Desert Bloom Yang Bikin Gurun Di Arab Saudi Jadi Padang Lavender

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:36

13 Kontroversi Arab Saudi : Proyek Bangunan Mirip Ka’bah Hingga Pantai Bikini

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:35

Mengenal Mocaf Pengganti Terigu Yang Kaya Manfaat

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:35

Fakta Haru Dibalik Hari Kasih Sayang 14 Februari

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:35

Mau Bisa Nulis Buku Atau Opini Media Penerbit Sherpa Indonesia Buka Klub Menulis, Terbuka Untuk Seluruh Indonesia

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:34

Terapkan Kiat ini, Bikin UMKM Makin Sukses di Era Digital

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:34

Selamat Jalan Prof Rubi, Guru Abadi Sang Pembimbing Yang Menginspirasi

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:34

Tata Cara Salat dan Khutbah Idul Adha di Rumah

Berita Terbaru

Nasional

Koperasi Multi Pihak Game Changer Koperasi Indonesia

Minggu, 21 Jul 2024 - 00:01