Uang Rp 500 Triliun Ditemukan Oleh PPATK. Ivan : Dalam Perspektif PPATK Memang Terjadi Pencucian Uang

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beritakoperasi, Jakarta – Dugaan Tindakan pencucian uang (TPPU) dilaporkan oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sebanyak 12 koperasi, sepanjang 2020 sampai 2022. Total dana kerugian diperkirakan sebanyak Rp 500 triliun.

Hal ini disampaikan oleh Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, dalam Rapat Kerja Komisi III DPR RI dengan PPATK, Selasa (14/2/2023). Ia menyebut, dari total 12 koperasi simpan pinjam (KSP) ini, di antaranya termasuk Indosurya.

"PPATK menemukan dari periode 2020-2022 saja ada 12 koperasi simpan pinjam dengan dugaan TPPU, termasuk yang sekarang ini (Indosurya). Jumlah dana secara keseluruhan melebihi Rp 500 triliun, kalau bicara kasus yang pernah ditangani, koperasi," ungkap Ivan Yustiavandana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya sudah mengikuti berbagai kasus koperasi, termasuk Indosurya. Hingga saat ini PPATK sudah mengantoki 12 hasil analisis menyangkut 12 kasus koperasi tersebut.

Indosurya sendiri merupakan kasus dengan kerugian terbesar dengan angka mencapai Rp 106 triliun. Pihak PPATK juga secara rutin mengirimkan laporan analisa yang menyangkut kasus tersebut, hal ini selalu dikomunikasikan dengan pihak kejaksaan.

Baca juga:  Sularto : Ajak Pemerintah dan Pelaku Koperasi, Kampanye Untung Bareng Koperasi

"Kami sudah beberapa kali kirim hasil analisis kepada kejaksaan terkait kasus Indosurya. Artinya, dalam perspektif PPATK memang terjadi pencucian uang," ucap Ivan.

 

Baca Juga : Kopsyah Arasy Wukir Jaladri, Sefi : Kembangkan Usaha Anggota Pada Produk Lokal Unggulan Kerajinan Bambu Kemutug Kidul Baturadden

BACA JUGA : Kopsyah Arasy Wukir Jaladri, Sefi : Kembangkan Usaha Anggota Pada Produk Lokal Unggulan Kerajinan Bambu Kemutug Kidul Baturadden

"Angkanya memang luar biasa besar. Kami menemukan dari satu bank saja ada nasabah sekitar 40 ribu nasabah. Kita punya sekian puluh atau belasan bank. Kalau ditanya apakah ada aliran ke luar negeri, ya PPATK mengikuti aliran sampai ke luar negeri," tambahnya.

Menurutnya, Indosurya selama ini menggunakan skema ponzi alias investasi tak berizin. System ini digunakan dengan cara menunggu modal baru masuk. Kesimpulan ini didapatkannya salah satunya karena tercatat banyak dana nasabah yang ditransaksikan ke perusahaan terafiliasi.

"Karena banyak dana nasabah itu dipakai, ditransaksikan ke perusahaan terafiliasi. Contohnya, dibelikan jet, dibayarkan yacht, lalu ada juga untuk kecantikan, operasi plastik, macem-macem. Artinya tidak murni dilakukan bisnis selayaknya koperasi," terangnya.

Selain dengan kejaksaan, Ivan juga mengungkapkan bahwa Ia bekerjasama juga dengan banyak pihak. Salah satunya Kementrian Koperasi.  PPATK juga telah menghentikan aktivitas transaksi para oknum sejak analisis ini digelar.

Baca juga:  Fakta Menarik Tentang Koperasi di Dunia. Membuka Lapangan Kerja Hingga 280 Juta Orang

"Kita hentikan untuk menghindari kerugian lebih besar. Tapi untuk mencegah kerugian pada titik nol sangat tidak mungkin, karena literasi masyarakat saat ini, maaf, masih agak lemah. Sehingga keuntungan besar yang ditawarkan pelaku usaha itikad buruk tadi membutakan para nasabah," pungkasnya. (Beritakoperasi/Sefi)
 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari BeritaKoperasi.com.

Berita Terkait

Webinar Harkopnas Ke-77 : Peran Lembaga Pembiayaan Pengungkit Pengembangan Koperasi
Budi Hermawan : Bedah Buku Dan Diskusi “Lawan Tanding Kapitalisme” Semarakkan Harkopnas
Syarat Dan Tata Cara Menjadi Notaris Pembuat Akta Koperasi
Koperasi Kopasjadi Purwokerto, Kantor Baru Siap Fasilitasi Modal Usaha Dan Layani Biaya Pendidikan Anak
Hibah Rumah Gratis Ke-477, Bukti Kopsyah BMI Koperasi Yang Menjaga Prinsip Gotong-Royong
Cerita Di Balik Penyerahan Rumah Gratis Kopsyah BMI Ke-477 Di Serang
Enam Pria Tersangka Merampok Rumah Pegawai Koperasi di Malang , 4 Ditangkap dan 2 Buron
Bagi-bagi Dana Koperasi Desa Rp 1,6 Miliar, Wali Nagari dan Bamus di Dharmasraya Jadi Tersangka
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:36

Mengenal Fenomena Desert Bloom Yang Bikin Gurun Di Arab Saudi Jadi Padang Lavender

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:36

13 Kontroversi Arab Saudi : Proyek Bangunan Mirip Ka’bah Hingga Pantai Bikini

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:35

Mengenal Mocaf Pengganti Terigu Yang Kaya Manfaat

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:35

Fakta Haru Dibalik Hari Kasih Sayang 14 Februari

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:35

Mau Bisa Nulis Buku Atau Opini Media Penerbit Sherpa Indonesia Buka Klub Menulis, Terbuka Untuk Seluruh Indonesia

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:34

Terapkan Kiat ini, Bikin UMKM Makin Sukses di Era Digital

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:34

Selamat Jalan Prof Rubi, Guru Abadi Sang Pembimbing Yang Menginspirasi

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:34

Tata Cara Salat dan Khutbah Idul Adha di Rumah

Berita Terbaru

Nasional

Koperasi Multi Pihak Game Changer Koperasi Indonesia

Minggu, 21 Jul 2024 - 00:01