Konflik Iran-Israel Bikin Harga Minyak Naik, AS Ikut Was-was

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:38

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beritakoperasi, Purwokerto – Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Periode 2016-2019, Arcandra Tahar menilai hubungan konflik suatu negara dengan gangguan supply energi bukan perkara baru. Hal tersebut merespon eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dan Israel.

Menurut Arcandra peristiwa seperti ini sudah ada sebelumnya, dimana pada tahun 1970-1980'an terjadi krisis energi karena terganggunya supply.

"Jadi dari tahun-tahun sebelumnya kita juga sudah memahami bahwa ini akan terjadi selalu," kata Arcandra ditemui di Gedung Kementerian ESDM, dikutip Rabu (17/4/2024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia membeberkan banyak dari berbagai negara saat ini tidak lagi memandang dampak konflik terhadap harga energi secara jangka pendek. Melainkan bagaimana berbagai negara mengantisipasi kondisi tersebut.

Arcandra menyadari konflik yang terjadi di timur tengah berpotensi membuat harga minyak mentah global terkerek naik karena tersendatnya pasokan. Terlebih, wilayah ini merupakan salah satu produsen minyak terbesar.

"Nah sekarang terjadinya peristiwa konflik ini ada kemungkinan naik? ada. Kalau dia naik biasanya suatu saat dia akan turun. Kalau turun, dia akan naik kembali. Kalau peristiwa naiknya apa yang sudah kita persiapkan dan akan kita persiapkan untuk mengantisipasi dia naik ini," ujarnya.

Baca juga:  Penyebab Harga Bawang Merah Naik

Arcandra menyebut Amerika Serikat, peningkatan produksi minyak AS yang luar biasa tidak terlepas dari penemuan teknologi shale oil yang sangat fenomenal. Karena itu minyak dari AS kita sebut dengan shale oil.

BACA JUGA: https://beritakoperasi.com/panas-perang-iran-israel-pemerintah-ungkap-nasib-wni

Ia mengatakan bahwa AS kemungkinan besar tidak menginginkan harga minyak di atas US$ 100. Pasalnya, apabila harga minyak bertengger ke level US$ 100 per barel, maka inflasi negara tersebut akan semakin parah lantaran pemerintah tidak memberikan subsidi.

Di sisi lain, AS juga tidak menghendaki harga minyak berada di bawah US$ 70 per barel. Hal ini lantaran ongkos produksi dari shale oil cukup tinggi.

"Semua harga masuk pom bensin tidak ada subsidi, jadi ya gak mau harga di atas US$ 100, memperparah inflasi. Kalau gitu, harga di bawah US$ 90 tapi juga tidak boleh di bawah US$70, kenapa? shale oil itu mahal," katanya.

Kemudian Syeikh Oil dari Arab Saudi, minyak dari Arab justru lebih dapat menyesuaikan pada kenaikan harga maupun sebaliknya. Pasalnya ongkos produksi minyak di negara tersebut cenderung lebih rendah yakni sebesar US$ 20 per barel.

Baca juga:  Pemerintah Siap Edarkan Beras Cadangan Untuk Mengatasi Kenaikan Harga

"Jadi kalau harga rendah pun dihadapi itu, tapi kalau harganya tinggi sekali dia mau karena harga di pom bensin mereka disubsidi, penduduknya kecil, produksi besar. Jadi kalau harga tinggi pun di syekh oil itu mereka ok, mau 100, 110, 120, mereka ok," katanya.

Berikutnya minyak yang berasal dari Rusia atau yang sering disebut dengan Sale Oil. Tak jauh berbeda dengan Amerika Serikat, Rusia juga tak mengharapkan harga minyak berada di bawah US$ 70 per barel.

Hal tersebut lantaran negara ini biasanya menjual minyaknya dengan harga diskon. Bahkan tak tanggung-tanggung, Rusia memberikan diskon hingga US$ 30 per barel pada 2023 lalu.

"Bahkan 2023 diskonnya sampai US$ 30 per barel, harga US$ 80 per barel, dia jual di kurangi US$ 30 per barel jadi US$ 50 per barel. Nah untuk itu, harga biasanya kalau bisa ya harga setinggi2nya bagus, tapi harga rendah jangan sampai kalau ongkos produksi di Rusia mungkin sekitar US$ 30-40 per barel, kemudian ditambah ongkos diskon US$ 30, kalau bisa harga di US$ 70 per barel bagi Rusia itu paling rendah," tambahnya. (Beritakoperasi/Izul)
 

Baca juga:  Sedang Perlu Biaya Sekolah Anak, Kopasjadi Solusinya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari BeritaKoperasi.com.

Berita Terkait

IHSG Menguat 47,6 Poin, Rupiah Melemah
BI Terus Intervensi Pasar Akibat Rupiah Tertekan Dekati Rp 16.300 Per Dollar AS
Pelemahan Rupiah Bakal Berdampak pada Harga Barang Impor sampai Beras
Penyebab Harga Bawang Merah Naik
Pengusaha Buka-bukaan Biang Kerok Gula Langka dan Mahal di Ritel
Indonesia Bidik Swasembada Gula, Perhutani Siapkan 2.300 Hektar Lahan Tebu
Neraca Perdagangan Maret 2024 Tembus USD 4,47 Miliar, BI Bakal Perkuat Kebijakan Moneter
Rupiah Tertekan ke Rp 16.234 per Dolar AS Pagi Ini
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:36

Mengenal Fenomena Desert Bloom Yang Bikin Gurun Di Arab Saudi Jadi Padang Lavender

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:36

13 Kontroversi Arab Saudi : Proyek Bangunan Mirip Ka’bah Hingga Pantai Bikini

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:35

Mengenal Mocaf Pengganti Terigu Yang Kaya Manfaat

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:35

Fakta Haru Dibalik Hari Kasih Sayang 14 Februari

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:35

Mau Bisa Nulis Buku Atau Opini Media Penerbit Sherpa Indonesia Buka Klub Menulis, Terbuka Untuk Seluruh Indonesia

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:34

Terapkan Kiat ini, Bikin UMKM Makin Sukses di Era Digital

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:34

Selamat Jalan Prof Rubi, Guru Abadi Sang Pembimbing Yang Menginspirasi

Rabu, 12 Juni 2024 - 03:34

Tata Cara Salat dan Khutbah Idul Adha di Rumah

Berita Terbaru

Nasional

Koperasi Multi Pihak Game Changer Koperasi Indonesia

Minggu, 21 Jul 2024 - 00:01